Wednesday, November 12, 2008

Desain rumah gratis: tipe 40 di lahan 7 x 13 m

Saya rencana mau buat rumah tanah yang ada berbentuk persegi dengan, saya sudah ukur kiran-kira lahan yang bisa digunakan sebagai bangunan sebesar 7 m x 13 m, dengan muka yang ukuran 7 dan garis yang agak menyerong, saya menginginkan rumah luasnya sekitar 40m, dua kamar tidur dan masih sisa lahan. karena setelah dihitung budget segitu. nantinya maunya ada dapur sementara gitu pak.. Gimana ya pak biar budget normal tapi keliatan bagus


___________________________

Nama: Agus Dwi
Alamat: sleman Yogyakarta
Pertanyaan: Saya rencana mau buat rumah tanah yang ada berbentuk persegi dengan, saya sudah ukur kiran-kira lahan yang bisa digunakan sebagai bangunan sebesar 7 m x 13 m, dengan muka yang ukuran 7 dan garis yang agak menyerong, saya menginginkan rumah luasnya sekitar 40m, dua kamar tidur dan masih sisa lahan. karena setelah dihitung budget segitu. nantinya maunya ada dapur sementara gitu pak.. Gimana ya pak biar budget normal tapi keliatan bagus

Terimakasih bantuannya. Saya tunggu.

Jawaban




Yth pak Agus Dwi,
Pertama, saya ucapkan selamat untuk rencana pembangunan rumahnya. Lahan ukuran 7x13 meter termasuk lahan yang cukup luas, mengingat harga lahan dewasa ini. Untuk desain rumah ini, saya usahakan memenuhi kriteria bapak dengan dua kamar tidur, serta nantinya masih ada lahan kosong untuk pengembangan. Saran saya, pengembangan nantinya secara vertikal saja (ditingkat) sehingga masih ada taman untuk bermain putra putri.


Tampilan depan rumah sengaja dibuat secara inovatif, namun sebenarnya hanya bermain geometri dan warna juga sudah membuat perbedaan yang menarik. Atap rumah dibuat atap pelana sederhana saja agar biaya konstruksi juga masih 'normal' (tangkapan saya yang dimaksud 'normal' itu berarti tidak terlalu besar biayanya).


Demikian, semoga membantu.

_________________________________________

Pertanyaan dan Jawaban ini sudah dimuat di berbagai koran di Indonesia yang terhubung dengan PERSDA: sebuah grup Kompas Gramedia. Desain ini dibuat dengan teknologi dan desain sederhana. Bila Anda tertarik, bisa berkonsultasi dengan astudio untuk meningkatkan desain ini. 



Konsultasi ini dimuat di:



Jawa: Tribun Jabar
Sumatera: Sriwijaya post, Palembang
Riau: Tribun Pekanbaru
Batam: Tribun Batam
Kalimantan: Bajarmasin Post di Kalsel
Tribun Kaltim
Tribun pontianak, di kalbar
Sulawesi:Tribun Timur di Makassar.


Serambi indonsia di di Banda aceh dan Pos Kupang di NTT


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Monday, November 10, 2008

Void (lubang antar lantai) di rumah tinggal bertingkat


Bila Anda memiliki rumah lebih dari satu lantai, biasanya terdapat void. Void atau bukaan antar lantai bisa berfungsi praktis menghubungkan antara lantai bawah dan lantai atas. Rumah yang memiliki void biasanya terasa lebih lapang karena pandangan kita tidak terbatas pada satu lantai saja, namun juga hingga lantai atasnya. Lalu apa lagi kelebihan memiliki void untuk rumah tinggal?


Di suatu sore...
"Vi, kamu tau hairdryer mama?", tanya Mama dari bawah void.
Vivi menghampiri railing void.
"Apa Ma?"
"Hairdryer... Kamu pinjem nggak?"
"Nggak Ma" sahut Vivi.
"Anton yang pinjem Ma" kata Anton, dari sisi railing yang lain.
"Buat apa?"
"Buat keringkan baju soalnya kemaren kehujanan"


Bayangkan kondisi ketika Anda berada di lantai bawah, dan anggota keluarga lain, misalnya putra-putri kita sedang berada di lantai atas, dan kita perlu memberitahukan sesuatu pada mereka. Cukup kita melongok melalui void dan komunikasikan apa yang ingin Anda ucapkan pada putra-putri Anda. Ya, rupanya void punya arti penting untuk komunikasi penghuni antar lantai dalam rumah tinggal.

Pada ruang keluarga diatas, void memberikan kesan lebih luas, dan dapat ditambahkan aksesori pendukung seperti lampu hias, chandelier, dan sebagainya. 
Desain oleh Yoyok Sudibyo, foto oleh Probo Hindarto

Void juga memiliki fungsi yang berkenaan dengan penghawaan dan pencahayaan alami. Bila ruang di bawah tidak cukup terang atau tidak memiliki akses ke penghawaan alami dari taman rumah, bisa terbantu dengan adanya void. Dalam hal ini, void bisa mendukung konsep arsitektur tropis dan hijau, karena sebagai penghubung antar lantai, lubang void juga bisa menjadi menara angin yang dapat mengalirkan udara panas ke atas. Akan lebih baik lagi bila 'menara angin' ini memiliki lubang-lubang hawa di bagian atas untuk membuang udara panas tersebut.

Dalam desain rumah, pentingnya void juga memiliki arti dalam membuat rumah lebih lapang secara visual (penglihatan), misalnya bila ruang tamu kita hanya berukuran 2,5 x 3 meter, akan terasa lebih 'plong' bila diatasnya terdapat void. Demikian pula untuk ruangan lain, apalagi yang sering digunakan seperti ruang keluarga.



contoh: void di ruang keluarga (tanda panah merah). Desain oleh astudio

Di lantai atas, kehadiran void memang terkadang menyita ruangan, dan harus memiliki railing (pagar pembatas) disekitarnya untuk keamanan. Sama seperti fungsinya di lantai bawah, void di lantai atas memudahkan kita berbicara dengan penghuni di lantai bawah.


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Konsep Green architecture/ arsitektur hijau oleh Budi Pradono

Konsep ‘green architecture’ atau arsitektur hijau menjadi topik yang menarik saat ini, salah satunya karena kebutuhan untuk memberdayakan potensi site dan menghemat sumber daya alam akibat menipisnya sumber energi tak terbarukan. Berbagai pemikiran dan interpretasi arsitek bermunculuan secara berbeda-beda, yang masing-masing diakibatkan oleh persinggungan dengan kondisi profesi yang mereka hadapi. Salah satunya konsep 'green' oleh Budi Pradono, seorang arsitek yang sudah dikenal di mancanegara dengan berbagai award internasional yang sudah diraihnya.

'Green Architecture' oleh Budi Pradono





Profesi arsitek saat ini sedang mengalami tekanan yang kuat untuk melakukan perubahan besar dalam metode merancang dan juga melakukan absorbsi teknologi yang cepat agar dapat menghasilkan rancangan yang kontemporer yang berorientasi pada Arsitektur Hijau (green architecture), yang lebih tanggap pada isu-isu lingkungan. Saat ini Best Practice selalu dikaitkan dengan etika arsitek dalam mengantisipasi pemanasan global, penghematan energy, dan pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung-jawab. (Budi Pradono)

Saat menjelaskan tentang green design, Budi Pradono menggunakan contoh-contoh dari desain yang ia hasilkan, baik yang menurutnya ‘green’ atau ‘tidak green’. Profesi arsitek dewasa ini menuntut kita untuk melihat ‘green’ sebagai kesatuan dalam desain bangunan, dimana sekarang ini banyak award khusus diberikan pada bangunan yang ‘green’ dengan berbagai kriteria.

‘Green’ dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan), earthfriendly (ramah lingkungan), dan high performance building (bangunan dengan performa sangat baik). Ukuran 'green' ditentukan oleh berbagai faktor, dimana terdapat peringkat yang merujuk pada kesadaran untuk menjadi lebih hijau. Di negara-negara maju terdapat award, pengurangan pajak, insentif yang diberikan pada bangunan-bangunan yang tergolong 'green'.



Yang sering menjadi pertanyaan adalah bagaimana mendesain sebuah bangunan yang 'green' sekaligus memiliki estetika bangunan yang baik? Karena bisa saja bangunan memiliki fasilitas yang mendukung konsep green, namun ternyata secara estetika terlihat kurang menarik. Dalam hal ini, peran arsitek menjadi penting. Standar bangunan yang 'green' juga bisa menuntut lebih banyak dana, karena fasilitas yang dibeli agar bangunan menjadi 'green' tidak murah, misalnya penggunaan photovoltaic (sel surya pembangkit listrik). Teknologi agar bangunan menjadi 'green' biasanya tidak murah.

Indikasi arsitektur disebut sebagai 'green' jika dikaitkan dengan praktek arsitektur antara lain penggunaan renewable resources (sumber-sumber yang dapat diperbaharui, passive-active solar photovoltaic (sel surya pembangkit listrik), teknik menggunakan tanaman untuk atap, taman tadah hujan, menggunakan kerikil yang dipadatkan untuk area perkerasan, dan sebagainya.

Konsep 'green' juga bisa diaplikasikan pada pengurangan penggunaan energi (misalnya energi listrik), low energy house dan zero energy building dengan memaksimalkan penutup bangunan (building envelope). Penggunaan energi terbarukan seperti energi matahari, air, biomass, dan pengolahan limbah menjadi energi juga patut diperhitungkan.

Arsitektur hijau tentunya lebih dari sekedar menanam rumput atau menambah tanaman lebih banyak di sebuah bangunan, tapi juga lebih luas dari itu, misalnya memberdayakan arsitektur atau bangunan agar lebih bermanfaat bagi lingkungan, menciptakan ruang-ruang publik baru, menciptakan alat pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya.




Budi Pradono menjelaskan tentang konsep 'green' dalam rancangannya melalui contoh, misalnya pada rancangan Bloomberg Office, dimana diterapkan desain yang mendukung pencahayaan alami dapat bermanfaat untuk keseluruhan lantai kantor, penggunaan alat yang dapat mendeteksi cahaya alami untuk mengurangi penggunaan pencahayaan buatan, yang merupakan salah satu contoh efisiensi pencahayaan.



Pada 'K-house' yang dirancangnya untuk rumah mungil dengan 3 orang penghuni dan 5 ekor anjing, konsep arsitektur hijau diterapkan pada rancangan desain yang dibuat agar anjing-anjing tidak mudah lepas dan mengganggu tetangganya. Rumah ini mengetengahkan konsep rumah 'kandang' dengan jeruji-jeruji besinya, yang didesain dengan artistik sehingga menghilangkan kesan kandang dan menimbulkan artikulasi arsitektur baru dengan estetika yang unik.

Ahmett Salina Studio di Jakarta Selatan adalah salah satu rancangan dimana open space ditambahkan agar ruang hijau didepan bangunan lebih luas dan dapat digunakan bersama dengan tetangga-tetangganya. Rumah ini juga 'menggunakan dinding tetangga' untuk penghematan resource, serta memanfaatkan elemen bambu untuk secondary skin yang dapat menetralisir panas matahari.

AA house di Cipinang, Jakarta Timur dikonsep dengan keleluasaan ruang-ruang untuk saling overlap satu sama lainnya. Ruang tamu dan musholla dapat dibuka dan mencairkan ruang lebih luas. Roof garden dibuat pada tiap lantai hingga atapnya.

Dari konsep-konsep desain tersebut, terdapat upaya Budi Pradono untuk menghadirkan 'green design' dalam rancangan arsitekturnya, dimana letak 'green' pada tiap bangunan bisa berbeda sesuai dengan tuntutan dan kondisi yang ada.


Sumber: Materi seminar 'Good business with Green Design', yang diadakan oleh Majalah Bale, Universitas Brawijaya oleh Budi Pradono, yang termasuk dalam 57 arsitek Asia terinovatif dalam buku Young Asian Architects,  DAAB, Stutgart Jerman, 2006, dan mendapat kesempatan untuk mempresentasikan karyanya dalam World Architecture Festival 22-24 October di Barcelona.


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Sunday, November 2, 2008

Ekspresi dan emosi dalam desain rumah dan interior

Sebagai bagian dari seni, arsitektur memiliki ekspresi emosi, misalnya sebuah ruangan dengan wallpaper bermotif bunga-bunga akan terkesan lembut, feminim dan nyaman. Sebuah ruang tamu dengan warna coklat cenderung merah memiliki kesan maskulin, berani yang ekspresif. Emosi yang ditunjukkan oleh sebuah ruangan atau penampilan rumah tinggal mencerminkan pemiliknya, dan dapat menjadi ekspresi sang pemilik.

Dalam hal ini, warna memiliki peran khusus dalam menyampaikan emosi sebuah karya arsitektur rumah atau ruangan tempat tinggal Anda. Warna memiliki kekuatan membangkitkan emosi dan perasaan tertentu. Selain itu tekstur bahan material juga membangkitkan sebuah mood, misalnya dinding batuan menciptakan rasa dingin menyejukkan dengan emosi yang tenang laksana batuan tebing yang indah.



Ekspresi lembut yang hadir dalam pemilihan cushion sofa, karpet dan gorden, ditunjang pula oleh meja berdekorasi sulur dengan garis-garis lembutnya. Adanya bunga turut mempercantik ruang duduk ini.
(foto oleh Louis Hall)

Pemilihan furniture juga memiliki sebuah emosi mendalam, karena bentuk-bentuk furniture menyiratkan kepribadian pemilik. Furniture simple dan stylish dengan gaya modern menyiratkan semangat muda, karena kesan elegan dan eksklusif seperti busana seorang wanita atau pria yang hendak pergi ke kantor. Furniture yang klasik dengan ragam hiasan yang banyak menyiratkan pesona keindahan tempo dulu yang glamour dan mewah. Furniture gaya pedesaan yang terlihat tua, dengan polesan seadanya menunjukkan emosi yang jujur dan tidak mengada-ada, sederhana seperti kesan seorang gadis desa.

Terkadang, pernak-pernik rumah dapat membawa emosi dalam sebuah ruangan, misalnya sebuah foto berbingkai dari memori paling bermakna dalam hidup kita. Keluarga selalu memiliki benda-benda kesayangan yang dipajang agar seluruh anggota keluarga menikmati benda kesayangan itu.

Ekspresi sebuah wajah jendela yang sejuk, dengan unsur tanaman, memperlihatkan kesan ‘dingin’ dan segar.
(foto oleh Probo Hindarto)

Emosi yang terasa dalam sebuah ruangan juga tergantung pada kepribadian pemilik, misalnya ruangan terkesan sangat maskulin dan kuat karakternya, dengan pemilihan warna-warna kuat dan berani. Sebuah ruangan juga bisa terkesan lembut dan feminim, karena corak warna yang lembut seperti ungu muda, merah muda dengan paduan hiasan bunga-bunga dalam vas.

Penampilan sebuah rumah juga menunjukkan emosi, seperti emosi keramahan. Kesan welcome dari sebuah rumah bisa menunjukkan bahwa penghuninya juga ramah dan baik hati. Kesan ini bisa timbul dari adanya teras yang mengundang dengan taman yang indah di bagian depan rumah. Karenanya taman adalah faktor penting untuk penampilan sebuah rumah, dengan pilihan karakter jenis pohon, seperti pohon palem untuk kesan refreshing yang mengingatkan kita pada suasana di pantai-pantai, atau pohon bunga bougenvil untuk kesan taman bunga yang menyenangkan.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Arsitektur vernakular sebagai bahasa arsitektur yang tidak terbatas pada sistem konstruksi (esai)

Vernakular menjadi penting untuk konteks arsitektur di Asia karena Asia terdiri dari berbagai berbagai budaya dan adat yang berlainan disetiap wilayahnya. Setiap wilayah memiliki arsitektur spesifik yang berasal dari tradisi, yaitu adaptasi manusia lokal terhadap alam yang memunculkan berbagai cara untuk menanggulangi iklim untuk kenyamanan bangunan.

Salah satu contoh, yang selalu ditekankan oleh Profesor Joseph Prijotomo tentang arsitektur vernakular Jawa Timur, adalah arsitektur pernaungan, yaitu suatu cara untuk bernaung menghadapi iklim, dimana atap adalah bagian terpenting dari desain arsitektur vernakular. Meskipun demikian, sebenarnya denah maupun luas bangunan yang ditentukan oleh aktivitas didalamnya tetap menentukan besaran atap. Bagi orang Jawa, semua hitungan dimensi rumah dibuat berdasarkan primbon, yang merupakan sistem kepercayaan orang Jawa yang ditaati karena dipercaya sebagai sistem kebenaran, bukan seperti sistem dunia barat yang ditaati sebagian besar karena sistem hukum.

Merujuk pada pendapat pak Joseph tentang arsitektur pernaungan, maka konteks sistem konstruksi menjadi satu bagian dari arsitektur vernakular Jawa Timur yang tidak signifikan, tetapi adalah salah satu bagian dari elemen pembentuk bangunan semata.

Vernacular artinya adalah bahasa setempat, dalam arsitektur istilah ini untuk menyebut bentuk-bentuk yang menerapkan unsur-unsur budaya, lingkungan termasuk iklim setempat, diungkapkan dalam bentuk fisik arsitektural (tata letak denah, struktur, detail-detail bagian, ornamen dll)

Yulianto Sumalyo







...comprising the dwellings and all other buildings of the people. Related to their environmental contexts and available resources they are customarily owner- or community-built, utilizing traditional technologies. All forms of vernacular architecture are built to meet specific needs, accommodating the values, economies and ways of life of the cultures that produce them.

Encyclopedia of Vernacular Architecture of the World


Sebagai bahasa, maka implementasi dari arsitektur vernakular boleh jadi tidak terpengaruh oleh jenis konstruksi yang digunakan, karena jenis konstruksi merupakan salah satu faktor yang disebut sebagai 'komponen kebudayaan material' menurut Heinz Frick, yaitu ketrampilan pertukangan, yang dalam arsitektur vernakular adalah salah satu faktor terpenting dalam tradisi arsitektur. Jenis konstruksi berubah setiap waktu, dan apakah kita dapat menyebut jenis konstruksi berdasarkan material baru sebagai bagian baru dari arsitektur vernakular, adalah hal yang masih dipertanyakan, seiring dengan kemampuan masyarakat lokal untuk mengadaptasi berbagai teknologi tepat guna untuk material baru. Kapankah teknologi yang tergolong baru, seperti penggunaan kaca yang makin bervariasi, menjadi bagian dari arsitektur vernakular?

 Lokasi: DeDaunan

Arsitektur vernakular seringkali diidentikkan dengan jenis arsitektur yang berkembang tanpa bantuan desainer (arsitek), dan merupakan jawaban adaptif dari manusia lokal untuk beradaptasi dengan lingkungan dan mengatasi lingkungan melalui desain dengan cara try and error. Bila cara-cara ini bisa berlangsung berulang-ulang melalui ajaran dari mulut ke mulut, maka ia menjadi tradisi. Terkadang meskipun sebuah material tergolong baru, seperti penggunaan kaca untuk rumah bagi masyarakat Indonesia pedalaman, bila ia dikenal melalui proses try and error sehingga lazim digunakan dalam rumah-rumah tinggal, maka ia menjadi bagian dari arsitektur vernakular.

Karena lazimnya arsitektur vernakular dikenal oleh masyarakat di daerah tertentu sebagai arsitektur 'paling berhasil', maka tidak mengherankan bila arsitektur vernakular menjadi rujukan utama untuk melihat bagaimana arsitektur dengan teknologi yang lebih baru bisa dikembangkan secara lebih adaptif terhadap lingkungan. Hal ini karena manusia modern juga sudah menemukan jenis arsitektur yang 'tahan terhadap segala cuaca', seperti arsitektur gedung tinggi yang tertutup kaca dan menggunakan pengatur udara (Air Conditioner) buatan. Arsitektur yang disebut terakhir merupakan arsitektur yang kurang berwawasan lingkungan.

Karena itu, arsitektur vernakular boleh jadi merupakan panduan untuk membuat arsitektur berwawasan lingkungan, dalam arti memperhatikan potensi lokal seperti udara alami, tanaman, material alami, dan sebagainya. Mempelajari arsitektur vernakular dapat membantu kita memahami bagaimana secara wajar, kita dapat mengolah material dalam sistem konstruksi untuk menghadapi alam melalui arsitektur tanpa berlebihan. Di Indonesia, sudah menjadi konsensus bahwa atap yang tinggi dengan plafon dapat membantu rumah terasa lebih sejuk, dan dapat mengalirkan air hujan lebih cepat. Teritisan merupakan cara jitu untuk menghalau hujan memasuki pintu dan jendela. Teras adalah bagian dari rumah dimana kita bisa merasakan hembusan angin di udara tropis dengan nyaman.

Pengetahuan arsitektur vernakular dapat dilihat secara langsung melalui bangunan-bangunan arsitektur rakyat yang menggunakan teknologi sederhana dan tepat guna. Kesederhanaan justru menjadi ciri utama yang memberikan nilai lebih berupa estetika khas arsitektur vernakular dan tradisional. Kesederhanaan dalam penggunaan material, menjadi cermin dari tingkat kematangan desain dan bagaimana menggunakan material secara wajar dan tidak berlebihan.


________________________________________________
(esai ini sebetulnya masih saya rasakan belum matang)
Written by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.