Friday, March 27, 2009

Kolom dalam konstruksi rumah tinggal sederhana

Fungsi kolom adalah sebagai penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Bila diumpamakan, kolom itu seperti rangka tubuh manusia yang memastikan sebuah bangunan berdiri. Kolom termasuk struktur utama untuk meneruskan berat bangunan dan beban lain seperti beban hidup (manusia dan barang-barang), serta beban hembusan angin. Kolom berfungsi sangat penting, agar bangunan tidak mudah roboh.

Column function is as a successor of forces of the entire building into the foundation. When compared, columns are like human skeleton that ensure a building to stand. Columns are including the main structure to carry the heavy burden of building and others like life load (humans and goods), and wind loads. Columns are very having important function, so that the building does not easily collapse.

Beban sebuah bangunan dimulai dari atap. Beban atap akan meneruskan beban yang diterimanya ke kolom. Seluruh beban yang diterima kolom didistribusikan ke permukaan tanah di bawahnya. Kesimpulannya, sebuah bangunan akan aman dari kerusakan bila besar  dan jenis pondasinya sesuai dengan perhitungan. Namun, kondisi tanah pun harus benar-benar sudah mampu menerima beban dari pondasi. Kolom menerima beban dan meneruskannya ke pondasi, karena itu pondasinya juga harus kuat, terutama untuk konstruksi rumah bertingkat, harus diperiksa kedalaman tanah kerasnya agar bila tanah ambles atau terjadi gempa tidak mudah roboh.

Gambar: gambaran struktur kolom menggunakan beton bertulang. Pada dasarnya merupakan rangka yang menopang beban seluruh bangunan.

Struktur dalam kolom dibuat dari besi dan beton. Keduanya merupakan gabungan antara material yang tahan tarikan dan tekanan. Besi adalah material yang tahan tarikan, sedangkan beton adalah material yang tahan tekanan. Gabungan kedua material ini dalam struktur beton memungkinkan kolom atau bagian struktural lain seperti sloof dan balok bisa menahan gaya tekan dan gaya tarik pada bangunan.

Letak kolom dalam konstruksi
Kolom portal harus dibuat terus menerus dan lantai bawah sampai lantai atas, artinya letak kolom-kolom portal tidak boleh digeser pada tiap lantai, karena hal ini akan menghilangkan sifat kekakuan dari struktur rangka portalnya. Jadi harus dihindarkan denah kolom portal yang tidak sama untuk tiap-tiap lapis lantai. Ukuran kolom makin ke atas boleh makin kecil, sesuai dengan beban bangunan yang didukungnya makin ke atas juga makin kecil. Perubahan dimensi kolom harus dilakukan pada lapis lantai, agar pada suatu lajur kolom mempunyai kekakuan yang sama.

Ilustrasi letak kolom-kolom dalam gambar kerja arsitektural rumah dua lantai (berwarna kuning)

Tulangan kolom dibuat berkait dengan sloof tulangan ini memiliki besi utama (yang tegak) dan besi begel (yang kotak-kotak untuk mengikat besi utama. Jarak antar begel/ sengkang berkisar antara 10 hingga 20 cm.

Gambar tulangan kolom, sedang dikerjakan bersama pembuatan dinding.

Pekerjaan kolom yang sudah jadi. 

Load of a building starting from the roof. Load of the roof will continue to burden the receiving column. All Received load is distributed to the column beneath the ground surface. In conclusion, a building will be safe from damage when size and types of foundations are in accordance with the calculation of load distribution. However, soil conditions must really be able to accept the burden of the foundation. Column load will be forwarded to the foundation, that is why it must also be a strong foundation, especially for construction of multi storey house, the soil depth should be checked to the hard ground so that when an earthquake happens it will not easily collapse.

Picture: picture of the structure using reinforced concrete columns. Basically a framework that sustains the burden of the whole building.

Structure in columns are made of steel and concrete. Both are a combination of materials that resist the pull and pressure forces. Iron is a pull-resistant material, while the concrete is pressure-resistant material. Combination of these two materials in concrete structure allows columns or other structural parts such as beams or sloof can handle pressure and hold the load of the building.

Location of the columns in the construction

Portal Columns should be made continuously from the lower floor to upper floor, which means that the location of the portal columns should not be shifted on each floor, as this will eliminate the stiffness properties of the portal framework structure. So in the plan, it must be avoided that the column is not at the same portal location to every layer of the floor. The size of the column can be getting smaller, according to the load they support, too. Change of column dimension must be done on the floor layers, so that in a column row has the same stiffness.


Hubungan kolom dengan pondasi dinding
berat atap diterima secara merata oleh ring balok dan beban disalurkan ke pondasi melalui media kolom. Selain menerima limpahan beban dari kolom, pondasi juga menahan berat dinding yang ada diatasnya sehingga secara keseluruhan menahan beban bangunan.

Gambar sketsa hubungan kolom dan sloof (tidak terskala)
sketsa oleh Probo Hindarto

Prinsip penerusan gaya pada kolom pondasi
Balok portal merangkai kolom-kolom menjadi satu kesatuan. Balok menerima seluruh beban dari plat lantai dan meneruskan ke kolom-kolom pendukung. Hubungan balok dan kolom adalah jepit-jepit, yaitu suatu sistem dukungan yang dapat menahan momen, gaya vertikal dan gaya horisontal. Untuk menambah kekakuan balok, di bagian  pangkal pada pertemuan dengan kolom, boleh  ditambah tebalnya.

Relation with the foundation

weight of the roof to be divided equally between the ring beams and the load transmitted to foundation through the media columns. Besides receiving the load from the column, the foundation also support the weight above the existing wall so that it also support the overall weight of the building.

(Sketch drawing of sloof relation with columns (unscaled)
Sketches by Probo Hindarto)

Force forwarding principle on the foundation column

A portal beam assemble columns into a single unit. The block receives the entire burden of the floor plate and continue to support columns. Relations of beams and columns are pin-pin, a support system that can hold the moment forces, vertical force and horizontal forces. To increase the beam stiffness, at the base at a meeting with the column, allowed to add thickness.
________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

Monday, March 23, 2009

Teori evolusi memetika - Pemilihan material dan teknologi arsitektur dalam region geo-cultural yang mendefinisikan tipologi bangunan

THE HAGUE: Porters house of Clingendael EstateBangunan pada awalnya merupakan jawaban manusia atas kebutuhan berlindung dari cuaca dan gangguan alam maupun binatang buas. Cara yang ditempuh manusia untuk berlindung pada tempat-tempat tertentu seperti gua sudah berevolusi hingga saat ini dalam ilmu pengetahuan, namun akar dari permasalahan manusia yang harus dijawab seputar respon terhadap alam masih sama, dan perubahan dapat dilihat dari evolusi [1] tipologi bangunan yang dihasilkan. Sebuah bentuk bangunan memiliki alasan mengapa harus demikian.

Hal ini berkaitan dengan ketersediaan material dan teknologi bangunan yang berkembang atas sebuah material. Material dengan potensinya diaplikasikan dengan jenis konstruksi material dan teknologi bangunan yang berkembang dan sesuai dengan potensinya untuk diaplikasikan dengan konstruksi yang sesuai. Hal ini yang menjadi dasar mengapa sebuah bentukan bangunan terjadi. 

Sebuah contoh yang paling sederhana, posisi gerak tubuh manusia yaitu berdiri, duduk dan tidur. Pada posisi duduk seorang manusia memerlukan alat untuk terbentuk untuk diduduki, apakah itu sebuah batu, potongan kayu ataupun sebuah kursi. Pilihan apakah ia menggunakan batu atau kursi dengan bentukan modern adalah hal yang dihasilkan melalui perbedaan penggunaan material dan teknologi. 


Contoh lain yang cukup nyata dalam perkembangan arsitektur dengan penggunaan kaca menunjukkan fakta bahwa setelah kaca menjadi material baru yang berpengaruh pada arsitektur, ia menjadi sumber daya untuk digali potensi materialnya dalam sistem konstruksi yang dapat dikembangkan atas material kaca tersebut. Pengetahuan material dan pengetahuan konstruksi adalah dua pondasi utama mengapa berbagai bentuk arsitektur terjadi dimana teknologi yang diaplikasikan pada sebuah material merupakan diversitas melalui berbagai variabel. Variabel ini bisa menjadi merupakan unsur geo-cultural dan diversitas pada teknologi bangunan atau sebuah material melulu di sebabkan karena perkembangan teknologi setempat yang kebanyakan terisolasi antara satu region geo-cultural ke region lainnya.

THE HAGUE: Porters house of Clingendael Estate


Bagaimana manusia dalam sebuah region geo-cultural menganggap bahwa arsitektur semacam ini merupakan arsitektur terbaik, dapat dijelaskan melalui teori evolusi memetika berkaitan dengan material dan teknologi bangunan.

Bagaimana sebuah bentuk bangunan terwujud adalah resultan dari evolusi teknologi terhadap material. Memandang kenyataan ini apabila kita mengambil sudut pandang arsitektur tradisional, arsitektur modern atau jenis sebutan arsitektur lainnya oleh manusia, memiliki elemen pembentuk yang lebih kecil yaitu : material dan teknologi bangunan. Dalam konteks pemikiran saya ini bentuk-bentuk arsitektur tradisional merupakan contoh yang paling lugas dan jernih atas memahami akar tipologi bangunan. Ini menjelaskan kenyataan mengapa konstruksi dinding di Jepang berbeda dengan konstruksi dinding di Roma.

Bukan suatu yang mustahil bahwa opsi memetika ini dapat “dipindahkan” (diadopsi dalam region geo-cultural lain) dari satu region geo-cultural ke geo-cultural lainnya. Namun biasanya aplikasi terhadap pilihan teknologi konstruksi arsitektural didasarkan pada memetika yang berkembang dalam sebuah region geo-cultural dan 'pemindahan' dapat menjadi fenomena yang meng-alienasi atau justru mengangkat derajat sebuah memetika kosakata arsitektur. Didalam evolusi memetika arsitektur tradisional, hal ini adalah sebuah faktor penentu apakah sebuah opsi terhadap bentukan arsitektural akibat pemilihan teknologi terhadap material umum diaplikasikan terhadap bangunan-bangunan dalam sebuah region geo-cultural. Dalam perspektif ini benar salahnya, umum tidaknya, sebuah bentukan arsitektural terjadi merupakan judgement akibat dari evolusi memetika itu sendiri.



GLOSSARY
evolusi: 
dalam Wikipedia:
In biology, evolution is change in the inherited traits of a population of organisms from one generation to the next. These changes are caused by a combination of three main processes: variation, reproduction, and selection. Genes that are passed on to an organism's offspring produce the inherited traits that are the basis of evolution. These traits vary within populations, with organisms showing heritable differences in their traits. When organisms reproduce, their offspring may have new or altered traits. These new traits arise in two main ways: either from mutations in genes, or from the transfer of genes between populations and between species. In species that reproduce sexually, new combinations of genes are also produced by genetic recombination, which can increase variation between organisms. Evolution occurs when these heritable differences become more common or rare in a population.

geo-cultural: wilayah / region perkembangan memetika arsitektur spesifik

memetika: Ilmu yang mempelajari meme (kode perilaku manusia) dalam ilmu kebudayaan yang disebarkan dalam model evolusi kebudayaan yang dikembangkan melalui pengembangan teori evolusi Darwin.

FOOT NOTE
[1] Evolusi dalam konteks ini dapat dikaitkan langsung dengan model evolusi dalam biologi yang diaplikasikan dalam model evolusi memetika arsitektur. Baca tulisan saya tentang salah satu teori evolusi memetika dan perbandingan dengan teori evolusi biologi berikut ini:


Mengapa arsitektur khas Indonesia pantas untuk diperjuangkan?
.

Download versi .pdf dari artikel ini.
05 Jan 2007
articles by 
astudio
Pertanyaan  ‘mengapa arsitektur khas Indonesia pantas untuk diperjuangkan?’ merupakan pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang mendefinisikan hubungan antara masa lalu, saat ini dan masa depan, sebagai sebuah identitas jatidiri. Terdapat banyak faktor yang dapat dilakukan untuk menghubungkan masa lalu dengan saat ini dan masa depan, dan artikel ini merupakan suatu cara untuk melakukan itu, dan selalu merupakan hal yang menarik untuk melakukan hal itu.
‘A connection with the past is a prerequisite for the appearance of a new and self confident tradition’ (Giedeon, 1956)
‘Hubungan dengan masa lalu adalah keharusan bagi munculnya tradisi yang baru dan penuh kepercayaan diri’ (Giedeon, 1956)
Bangunan-bangunan masa lalu seperti candi dapat diuraikan dalam kaidah desain spiritual mereka, yaitu yang paling penting karena ini adalah dasar mereka membangun dan merencanakan bangunan. Kaidah spiritual desain bisa merupakan petungan, prinsip hitungan struktur, pola peletakan, hierarki, sequence, penghiasan atau ornamentasi.

Apakah yang mendasari kepentingan dibangunnya bangunan-bangunan candi merupakan hal yang bisa dikaji namun hasilnya merupakan norma-norma yang belum tentu dapat diaplikasikan dalam desain modern karena perbedaan keyakinan. Namun dalam dunia modern saat ini, pola-pola desain tersebut dapat dijadikan alat untuk mengambil peradaban arsitektur masa lalu tersebut sebagai kaidah desain yang diterapkan dalam bentuk baru. Perbandingan dari pola desain lama yang dimasukkan kepada desain baru untuk menunjukkan bahwa hal ini memungkinkan adalah pola-pola desain klasik Yunani yang diterapkan dalam bangunan baru postmodern.
Hal ini menunjukkan bahwa prinsip-prinsip dasar desain dapat didefinisikan kembali dan digubah untuk diterapkan kembali kepada bangunan baru yang menunjukkan kesamaan pemikiran. Beberapa contoh prinsip dasar desain yang bisa diterapkan adalah:
q       Ritme
q       Cengkah
q       Arah
q       Kontras
q       Pola
q       Warna
q       Dan sebagainya
Translasi ke dunia postmodern dapat digambarkan sebagai berikut:
q       Sistem konstruksi arsitektur modern digunakan hanya sebagai ALAT untuk membangun, selebihnya, dalam makna desain dapat digunakan prinsip dasar desain candi
q       Kaidah desain peradaban arsitektur masa lalu tersebut diaplikasikan sebagai kaidah desain untuk menjadikannya lebih berjiwa dan bermakna
q       Pengambilan keputusan oleh arsitek atau desainer dalam prinsip-prinsip dasar desain diambil dan dipengaruhi oleh peradaban arsitektur masa lalu.
q       Sistem ruang akan mengalami reformasi disesuaikan dengan kebutuhan saat ini, namun reformasi ini sebaiknya tidak bertentangan dengan kaidah peradaban arsitektur masa lalu. meskipun demikian, dengan adanya prinsip atau kaidah peradaban arsitektur masa lalu, hierarki dan penataan ruang bisa jadi mengikuti pola yang ada dalam peradaban masa lalu tersebut, dengan juga mentransformasikan atau mentranslasikan gaya atau kaidah desain tersebut dalam tata ruang, sebagaimana terjadi pada anatomi tampak.
q       Pembedaan sistem tata ruang dan anatomi tampak dari yang digunakan dalam arsitektur modern akan menjadikannya memiliki kehasan yang lebih berjiwa dan bermakna. Ini yang akan menjadikannya berhasil sebagai hasil translasi peradaban arsitektur masa lalu dalam konstruksi modern.
Kebanyakan penganut paham arsitektur modern hanya akan melihat anatomi tampak sebagai gubahan komposisi geometri, dan bila terdapat makna, akan merupakan makna dengan fungsi tertentu yang logis dan universal (misalnya warna kuning digunakan untuk mempertinggi kewaspadaan). Fungsi adalah penjelas bagi arsitektur modern, dan karenanya makna (apalagi yang bersifat metafisik) tidak demikian diindahkan.
Namun bila suatu desain ditujukan untuk memuat kaidah-kaidah desain yang bermakna, maka terdapat kemungkinan untuk mengaplikasikan kaidah-kaidah desain yang bersifat spiritual bahkan metafisik. Toleransi sifat-sifat metafisik untuk diaplikasikan dalam rancangan desain ditentukan oleh perancang. Sejauh mana sifat-sifat dan kaidah desain peradaban arsitektur masa lalu diaplikasikan dalam desain merupakan pilihan desainer.
ANALOGI EVOLUSI MEMETIKA UNTUK PERADABAN ARSITEKTUR MASA LALU
Untuk memudahkan memahami bagaimana peradaban arsitektur masa lalu dapat berkembang dengan baik di masa ini, marilah kita mengandaikan peradaban arsitektur masa lalu sebagai mahluk hidup yang bisa berkembang. Peradaban arsitektur masa lalu dapat diibaratkan sebagai meme yang dalam memetika memiliki peran seperti gen. Perhatikan tabel berikut:

Tabel Analogi Evolusi Memetika Gen dan Peradaban Arsitektur Masa Lalu

Satuan evolusi
Proses penggandaan diri
Media evolusi
Tujuan evolusi
Gen
Peran dalam DNA menentukan jenis dan karakter spesies.
DNA menolak atau mengembangkan Gen tersebut?
DNA
Jenis dan karakter spesies
Peradaban arsitektur masa lampau
Perannya dalam peradaban arsitektur menentukan jatidiri arsitektur bangsa.
Peradaban arsitektur menolak atau mengembangkannya?
Peradaban arsitektur manusia
Jatidiri arsitektur bangsa
Peradaban arsitektur modern
Perannya dalam peradaban arsitektur menentukan jatidiri ‘modernitas’ bangsa saat ini.
‘Saat ini peradaban arsitektur kita sedang mengembangkannya’
Peradaban arsitektur manusia
Jatidiri arsitektur bangsa
 Bila sebuah gen yang membawa suatu sifat diambil oleh DNA tersebut sebagai bagian DNA yang membawa sifat baik dan memberinya tempat dalam ikatan DNA, maka gen tersebut akan berkembang dengan baik untuk turut menentukan karakter spesies yang memiliki DNA tersebut. Bila peradaban arsitektur masa lampau diibaratkan seperti sebuah gen yang dapat mempengaruhi DNA, maka perannya dapat menentukan jatidiri arsitektur bangsa kita dengan seijin peradaban arsitektur saat ini. Bila peradaban arsitektur saat ini membiarkan peradaban arsitektur masa lampau untuk berkembang dengan baik, maka jatidiri bangsa kita akan terbentuk dengan baik. Bila tidak, maka peradaban arsitektur masa lampau akan hilang dan akibatnya kita tidak memiliki jatidiri yang berasal dari peradaban arsitektur masa lampau.
Bila sebuah gen ditolak untuk masuk dalam sebuah DNA, maka bagi gen tersebut dirinya kehilangan bagiannya dan merupakan kekalahan meme yang besar. Bila peradaban arsitektur masa lalu ditolak dan tidak dikembangkan oleh peradaban arsitektur manusia, maka kehilangan identitas tersebut merupakan kekalahan yang sangat besar, konsekuensinya cukup berat; kita kehilangan jatidiri.
Yang terjadi saat ini, peradaban arsitektur saat ini sedang mengambil ‘gen’ yang lain untuk membentuk jatidiri arsitektur bangsa kita, yaitu jatidiri arsitektur Nusantara. Saat ini, seakan-akan keseluruhan peradaban arsitektur sedang sibuk dengan ‘gen’ baru, yaitu arsitektur modern. Seperti apakah jatidiri arsitektur yang dibentuk oleh peradaban arsitektur modern tersebut? Hasil cepatnya, kita bisa melihat segala konsekuensi yang telah terjadi di negara-negara dimana peradaban arsitektur modern berkembang dengan baik.
Saat ini, mempelajari kebudayaan arsitektur masa lalu kita sendiri merupakan hal yang cukup mirip seperti bila kita mempelajari budaya arsitektur asing, misalnya budaya arsitektur Eropa. Hal ini dikarenakan kita sudah cukup ‘jauh’ dari jatidiri peradaban arsitektur kita, karena:
q       Sistem pendidikan dan materi ala barat yang diterapkan di Indonesia tidak banyak membantu penerusan tradisi.
q       Faktor tambahan yang cukup besar adalah karena kita dijajah oleh bangsa asing selama berabad-abad lamanya, sehingga hubungan tradisi yang seharusnya diteruskan, direpresi oleh para penjajah, banyak yang terputus.
q       Lingkungan dan sistem-sistem budaya dinegara kita banyak terpengaruh oleh budaya luar sebelum kita siap dan kaum muda tidak sempat belajar dengan baik.
q       Pengambil keputusan dalam desain bangunan-bangunan dan arsitektur Indonesia banyak yang tidak (belum) memiliki pandangan untuk melestarikan dan meneruskan tradisi arsitektur khas Indonesia.
Penerusan tradisi arsitektur masa lampau kepada saat ini dan masa depan merupakan proses yang membutuhkan ‘recognition’ yang baik dan dalam proses itu terdapat kecenderungan bahwa peradaban kita sendiri terasa asing karena apa yang didapati oleh generasi saat ini merupakan jejak-jejak masa lampau yang harus ditapak kembali. Untuk itu energi dan kemauan yang diperlukan cukup besar, dan tidak banyak yang menghedaki menapak tilas peninggalan-peninggalan masa lampau tersebut, sehingga segala penelitian yang telah dilakukan tentang sisa-sisa peradaban masa lampau merupakan harta yang tak ternilai harganya, lebih baik dari hasil kita membaca dan mengetahui peradaban arsitektur manapun yang terlihat lebih baik, lebih glamour, dan sebagainya namun sebenarnya membuat kita berpaling dari jatidiri peradaban arsitektur kita sendiri.

Nilai desain

q       Nilai desain (dari sudut pandang peradaban arsitektur masa lampau) merupakan seberapa banyak kaidah-kaidah desain peradaban arsitektur masa lampau diaplikasikan dalam desain.
q       Nilai desain (dari sudut pandang peradaban arsitektur) diukur dari seberapa besar kemauan manusia Indonesia untuk mengaplikasikan kaidah-kaidah desain peradaban arsitektur masa lampau (seberapa jauh manusia Indonesia menjadi tidak egois (tidak tidak mau tahu) terhadap kaidah desain peradaban arsitektur masa lampau)
q       Nilai desain (dari sudut pandang peradaban modern) diukur dari seberapa banyak pengaruh globalisasi (internasionalisasi atau penyeragaman desain) bekerja pada kebudayaan spesifik atau tradisional.
Semakin besar keinginan kita untuk mengaplikasikan kaidah-kaidah desain peradaban arsitektur masa lampau, semakin merupakan keuntungan bagi peradaban arsitektur masa lampau karena kita membantunya berkembang.
Dalam aplikasi, setelah memperhatikan peradaban arsitektur masa lampau dan menggunakannya dalam desain, kemampuan arsitektur modern untuk menyediakan sistem konstruksi yang semakin variatif akan menghasilkan karya desain yang bisa jadi memiliki perbedaan–perbedaan dari hasil-hasil budaya peradaban arsitektur masa lampau, misalnya candi-candi dan rumah-rumah tradisional. Namun sepanjang arsitektur modern digunakan sebagai alat dan kaidah peradaban arsitektur masa lampau tetap digunakan, hal ini merupakan keuntungan bagi peradaban arsitektur masa lampau dan merupakan nilai lebih ditinjau dari sudut peradaban arsitektur manusia.
Hasil-hasil karya arsitektur dalam taraf ini dapat menyajikan pilihan desain yang sangat luas dan kemungkinan perbedaan dengan hasil-hasil karya peradaban arsitektur masa lampau yang bisa jadi tampak dalam;
q       Skala bangunan
q       Sistem konstruksi bangunan
q       Fungsi-fungsi ruang dan pengelompokan zoning
q       Suasana ruang
q       Warna-warna bahan
q       Sistem, hierarki, proporsi, sequence
q       Kemungkinan lain dari monumentalitas desain
Arsitektur modern digunakan tidak lebih dari sebuah alat untuk mengekspresikan ide simbolis, dengan batasan bahwa arsitektur modern mengambil ‘fungsi’ sebagai dasar dari pengambilan keputusan dalam desain. Langkah yang disarankan;
                                  
Jika kita hendak melakukan ‘recognition’ pada peradaban arsitektur yang kita miliki, kita hendaknya menyadari bahwa didalamnya terdapat faktor ‘simbolisme’, ide untuk mengekspresikan makna melalui sebuah media, dalam hal ini arsitektur. Ia memiliki ‘bahasa khusus’ yang telah digunakan pada bangunan-bangunan khas Indonesia yang merepresentasikan ‘akar’ dari arsitektur khas Indonesia. Langkah awal untuk dilakukan adalah ‘cognition’ pada peradaban arsitektur masa lampau.
Contoh;
Pada arsitektur modern, estetika dari bentuk-bentuk geometris dan kotak mungkin cukup menarik sebagai penikmatan komposisi, namun memperhatikan ‘kebiasaan’ kita di masa lalu untuk mengikutkan makna sebagai ide estetis, bukankah lebih baik jika desain geometris tersebut juga mengandung makna simbolis untuk menghubungkan ide bangunan saat ini dengan ide bangunan masa lampau, sebagai representasi ‘recognition’ kita pada arsitektur khas Indonesia, lagipula bahasa geometris juga terdapat pada arsitektur khas Indonesia. Misalnya menggunakan gaya arsitektur candi untuk rumah tinggal.
Cara-cara semacam ini cukup menarik dan sepertinya menjanjikan untuk dilakukan, karena hal itu memang memungkinkan. Namun terdapat pertanyaan-pertanyaan mengganjal dari translasi bahasa arsitektur masa lampau ke saat ini, antara lain;
q       Apakah relevan untuk menggunakan kaidah-kaidah desain dari bangunan dari peradaban masa lampau ke saat ini, dengan konteks yang berbeda? Misalnya apakah relevan menggunakan arsitektur candi untuk dibuat sebagai arsitektur rumah tinggal saat ini?
q       Apakah setelah kita mengaplikasikan arsitektur masa lampau dan khas Indonesia pada saat ini, apakah nyaman untuk kita terapkan kedalam bangunan-bangunan saat ini? apakah akan cocok dengan gaya hidup saat ini?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan banyak bermunculan dan sebagai alternatif jawaban, salah satunya adalah sistem ruang yang berkaitan dengan cara hidup saat ini tidak diubah, dan perubahan yang terjadi akibat aplikasi kaidah desain peradaban masa lampau hanya digunakan untuk kaidah desain yang tidak mengubah gaya hidup. Tampaknya hal ini menjadikan peradaban arsitektur masa lampau teralienasi dan seakan kita menyadur budaya peradaban arsitektur dengan cara yang sama seperti cara kita menyadur gaya arsitektur dari Eropa, misalnya gaya klasik atau Mediterania, namun hal ini menjadi salah satu cara paling mudah bagi tujuan tersebut.

...............\|||/
...............(- O)
...,----ooO--(_)-----------,
...|............................|
...|......I'm bored.........|
...|................I want....|
...| the truth...............|
...'--------------------Ooo--'
.............|__/\__|
................|| ||
............ooO Ooo


***
Saat aku termenung, melihat apa dihadapanku...
Manusia tak mengenal dirinya sendiri...
Saat itu aku menyadari...
Betapa beratnya, untuk tidak mengenal diri sendiri...


written by Probo Hindarto (please... tell me if I'm wrong)
***
Tambahan artikel, dikirimkan dalam mailing list AMI (Arsitek Muda Indonesia):

Apakah arsitektur tradisional masing-masing daerah akan terlupakan
seiring berlalunya waktu dan semakin banyak orang beralih kepada
arsitektur 'modern'. Dari perkembangan paling mutakhir di Indonesia,
terutama di kota-kota besar, arsitektur tradisional telah ditinggalkan
oleh sebagian besar masyarakat, arsitek dan mereka yang membangun.

Apakah masih relevan untuk mengaplikasikan kaidah desain arsitektur
tradisional dalam konteks modern yang sama sekali berbeda? Barangkali
inilah yang juga memicu hilangnya jatidiri arsitektur tradisional.
Misalnya, bila sebuah kantor modern didesain, sangat mungkin desain
yang dihasilkan berpijak pada pandangan modern dalam arsitektur, bukan
kaidah desain berdasarkan tradisi. Hal ini mengakibatkan tidak adanya
kesamaan kaidah desain pada denah.

Kemudian, kaidah desain pada tampilan bangunan masih bisa
diaplikasikan. Namun, kemudian timbul pertanyaan; apakah ini bukan
berarti sekedar tempelan? Sayangnya, kemudian sepertinya opsi ini bisa
menjadi kabur karena membatasi kaidah desain modern yang memang sangat
bebas.

Pertanyaan selanjutnya... apakah arsitektur modern menggantikan
arsitektur tradisional? Dan sejauh mana kita memberikan tempat bagi
arsitektur modern untuk benar-benar menggantikan arsitektur
tradisional? Ataukah terdapat sebuah cara agar keduanya berpadu dengan
cukup manis seperti citra 'Ke-Jepang-an' yang muncul dalam banyak
arsitektur karya arsitek modern Jepang?

Adalah ditangan arsitek untuk memunculkan desain dengan muatan
arsitektur tradisional, sebagai sebuah pilihan, dalam kadar
seberapapun (baca http://www.astudio.id.or.id/artdeep4makna.htm). Dari
sisi keberlanjutan tradisi lokal, seberapapun kaidah arsitektur
tradisional muncul dalam desain, adalah keuntungan bagi penerusan
tradisi, yang merupakan 'gen' dari kebudayaan arsitektur lokal (baca
artikel http://www.astudio.id.or.id/artdeep5mengapaarsitektur.htm),

Saat ini, dengan berkembangnya berbagai pilihan material untuk
digunakan dalam konstruksi modern, terdapat pilihan untuk tetap
memiliki 'gen' arsitektur tradisional dalam bangunan modern, meskipun
dalam konstruksi modern. Dengan demikian, dalam pilihan ini jenis
material dan konstruksi yang digunakan tidaklah menjadi masalah, namun
nilai-nilai yang tersisa tetap dapat digunakan, dengan penyesuaian
lebih lanjut sistem konstruksi dengan iklim setempat.

Aspek lain; siapa yang hendak meneruskan tradisi? Dalam era ini,
berbagai perbedaan latar belakang para pelaku dalam dunia konstruksi
merupakan variasi yang menentukan keberlangsungan tradisi. Apakah
orang yang berasal dari Kalimantan (atau bahkan dari luar negeri),
datang ke Jakarta dengan sebuah proyek yang penuh dalam komandonya,
akan membuat desain dengan tradisi lokal Betawi (misalnya)? Ataukah
sebenarnya bangunan dengan nilai tradisi itu cukup diaplikasikan dalam
bangunan-bangunan yang dapat menjadi representasi dari masyarakat
lokal sebuah area, misalnya; kantor kelurahan di Jawa dengan bentuk
arsitektur Joglo khas Jawa. Hal ini adalah hal yang sangat mudah
dimengerti, bila Pemda setempat membakukan sebuah kaidah desain untuk
bangunan-bangunan pemerintah di sebuah kawasan. Tentunya ada tradisi
lokal yang ingin ditunjukkan, merepresentasikan masyarakat lokal yang
ingin diwakili.


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Sunday, March 22, 2009

Pondasi rumah sederhana - gambar kerja dan pelaksanaan

SERI MEMBANGUN Artikel ini adalah artikel pertama seputar konstruksi sederhana untuk rumah tinggal satu dan dua lantai. Artikel ini dimulai dari struktur sederhana pondasi yang biasa dipakai di rumah-rumah tinggal di Indonesia. Sistem struktur yang digunakan adalah pondasi batu kali dan beton.

Kegunaan pondasi sebagai struktur di bawah permukaan tanah berperan penting dalam menopang suatu bangunan agar meneruskan gaya dan segala arah ke tanah. Pondasi menjaga kestabilan bangunan terhadap berat bangunan itu sendiri dan gaya luar seperti angin, gempa, dan lain-lain. Pondasi juga memperkuat bangunan dari kerusakan merata karena penurunan tanah setempat dibawah pondasi lainnya.

Halaman ini memuat proses pembangunan salah satu rumah tinggal yang pernah kami kerjakan di astudio dan didokumentasikan dengan cukup lengkap untuk pengetahuan Anda.

Pondasi merupakan tumpuan dari keseluruhan berat bangunan beserta isinya, dimana keseluruhan beban ini akan disalurkan ke tanah di bawahnya. Jika tanah dan pondasinya kuat menahan semua beban bangunan, bangunan akan aman. Jika tidak kuat, maka pondasi dan dinding bisa patah.

Jenis pondasi dalam gambar ini adalah jenis pondasi batu kali yang biasa dipakai sebagai konstruksi pondasi untuk dinding bata. Dibawah ini adalah gambar detail potongan  pondasi. Pada kenyataanya, pondasi berbentuk lajur dan menopang dinding maupun kolom.

Gambar: Potongan gambar pondasi pada gambar kerja: terlihat disini pondasi footplat (beton) dengan garis putus-putus. Konstruksi pondasi tersebut digunakan bila rumah dua lantai. Bila satu lantai saja, cukup menggunakan pondasi batu kali. Konstruksi footplat harus dihitung melalui perhitungan beban dan di lapangan dibuat setelah kedalaman tanah keras diukur.

 
direksi keet; ruangan kecil tempat menyimpan alat-alat dan memampang gambar kerja di site pembangunan.
  
 proses mengukur pondasi
  
proses pondasi yang dilanjutkan dengan persiapan bekisting kolom
  
gambar foto detail pembangunan pondasi
  
 
Gambar pembuatan sloof diatas pondasi



________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

Friday, March 13, 2009

Tentang kabinet dalam rumah kita

Kabinet, adalah tempat penyimpan yang biasanya dibuat dari kayu atau material lembaran lainnya, merupakan kotak lemari untuk menyimpan benda-benda dalam rumah tinggal. Dengannya kita dapat menata berbagai benda, misalnya surat-surat penting sehingga terorganisasi dengan baik. Bila berada di dapur kita bisa menata peralatan dapur dengan rapi dan mudah ditemukan bila kita dibutuhkan.

Benda-benda yang biasanya disimpan dalam sebuah kabinet
-    bumbu-bumbu
-    peralatan dapur seperti pisau besar,sendok-sendok, mangkuk, piring,
-    kontainer (tupperware) dan penyimpan plastik
-    peralatan makan perak
-    gelas-gelas
-    bahan-bahan kue dan masakan
-    pakaian dan busana
-    surat-surat dokumen
-    peralatan tata rias
-    peralatan mandi
-    buku-buku
-    alat tulis
-    dan lain-lain


Kabinet dapur, dari bahan multipleks (plywood)

Macam-macam kabinet
-    kabinet dapur, biasanya dipakai menyimpan berbagai peralatan dapur
-    kabinet kamar mandi, untuk menyimpan peralatan mandi
-    kabinet ruang kerja/ perpustakaan, tempat menyimpan buku-buku dan alat tulis
-    kabinet ruang tidur, menyimpan kebutuhan pribadi, seperti pakaian, peralatan rias, dan sebagainya
-    kabinet ruang keluarga, biasanya menyimpan berbagai benda-benda keluarga seperti buku-buku, majalah, dan sebagainya.

Membuat kabinet sendiri atau membeli kabinet?

Bila kita memiliki keterampilan untuk membuat peralatan dari kayu, kita bisa membuat sendiri. Dalam hal ini diperlukan keahlian tukang kayu (agak jarang yang memiliki keahlian ini namun bila bisa, akan menjadi ide pekerjaan akhir pekan yang menyenangkan).

Dengan menggunakan bahan seefesien mungkin harus kita putuskan dengan melihat seberapa besarkah kita akan membuat kabinet tersebut. Pertama pastikan dulu luas ruangan yang akan ditempati lemari tersebut dan sesuaikan dengan dimensi panjang dan ukuran kabinet.

Cabinet Doors

Banyak merek furniture sekarang membuat produk-produk ’Do It Yourself’ (DIY) atau furniture yang bisa dirakit dan dipasang sendiri dan memiliki modul-modul (bagian-bagian) yang bisa dirakit dan disesuaikan dengan ukuran ruangan kita. Saya memiliki meja makan yang dibeli dan bisa dirakit sendiri dari toko. Furniture semacam ini mudah diinstal dengan waktu hanya beberapa menit dengan mengikuti prosedur perakitan dari toko atau brosur didalamnya.

Cara yang lain adalah membuat sendiri desain kabinet dengan mengukur kebutuhan dalam ruangan Anda, misalnya lebar ruang tidur dan berapa lebar kabinetnya. Dapat juga menyuruh ahli gambar untuk mendisain dan meminta tukang kayu untuk membuatkannya dan mengirimnya langsung ke rumah anda. Jenis bahan kayu yang digunakan dapat anda negosiasikan kepada tukang kayu yang lebih berpengalaman tentang jenis kayu mana yang kuat, tahan lama, aman dan anti rayap.

Jenis Kabinet dari lembaran kayu solid (jati)


Jenis kayu lembaran untuk membuat kabinet ada beberapa macam, yaitu kayu lembaran solid, plywood, particle board, dan jenis lainnya. Kayu lembaran solid dibuat dengan memotong langsung dari kayu gelondongan menjadi lembaran. Jenis ini cukup mahal, misalnya lembaran papan kayu jati. Kita banyak menjumpai jenis perabot dari kayu solid ini untuk jenis perabot tradisional, dengan ukiran dan tekstur kayu yang sangat menarik.



Jenis plywood adalah lembaran kayu yang dibuat dari gabungan lembaran tipis beberapa kayu menjadi kayu olahan. Jenis ini umum kita temui dipakai sebagai bahan furniture yang dijual di pasaran dengan merek-merek tertentu dan kualitas yang cukup memadai dalam arti lebih kuat dari particle board. Nama lain untuk bahan ini adalah multipleks.

Jenis particle board adalah kayu olahan dari serbuk kayu dan bahan-bahan lainnya, biasanya dibuat untuk furniture kabinet yang murah. Jenis ini bisa dipakai untuk berbagai perabot seperti lemari dan kabinet, namun dengan kualitas yang agak rendah karena bisa berubah bentuk bila diberi beban.

Finishing kabinet penting dipikirkan untuk melindunginya agar awet dan bertahan lama bahkan bertahun-tahun meskipun kita gunakan setiap hari. Finishing kayu bisa dipilih dari politur atau cat, dan macamnya juga beragam. Ada politur berbahan minyak, berbahan air. Cat pun bermacam-macam, ada yang cat kuas, atau cat semprot.


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Wednesday, March 11, 2009

Konsep Desain Rumah Modern - Etnik [artikel di koran Sindo]

Sekali lagi, saya muncul artikel di Koran Sindo kemarin, tanggal 11 Maret 2009. Terimakasih pada koran Sindo yang masih mempercayai saya sebagai narasumber pada berbagai artikel tentang rumah tinggal. Artikel kali ini tentang memberikan sentuhan etnik pada arsitektur modern (atau banyak yang menyebutnya 'minimalis'). Memberikan sentuhan etnik bisa memberikan warna bagi arsitektur modern yang cenderung polos.


Simak selengkapnya dalam artikel Sindo berikut:


dalam koran sindo 11 Maret 2009
Mengenal Konsep Desain Modern-Etnik
KOLABORASI: Langgam hunian modern bisa dikawinkan dengan langgam lain, semisal etnik. Sofa, standing lamb, dan lemari cabinet yang merupakan furnitur modern berpadu apik dengan lukisan wanita Bali serta pahatan patung kayu.
MENURUT konsep modernisme,desain yang baik adalah yang memperhatikan kesederhanaan bentuk, fungsional, dan estetis. Atas dasar ini,maka smart design sebenarnya tidak harus bergaya kontemporer, mewah, atau berteknologi canggih. 
Menurut arsitek Probo Hindarto, smart design dihasilkan dari proses pemikiran yang luas dan berkualitas, dengan hasil yang simpel,fungsional,serta indah. Dalam perkembangannya, paham modernisme menerima banyak kritik, juga mengalami penyempurnaan bertahap. Sebab,modernisme dianggap terlalu ”sibuk” dengan prinsip-prinsip perhitungan matematis, analisis struktur, teknik produksi, standardisasi, efisiensi, dan hal-hal yang bersifat rasional lainnya. 
”Desain modern yang seharusnya mampu menjadi media pengungkapan budaya, kemanusiaan, moral, fantasi, selera, dan nilai-nilai keindahan justru menjadi tersingkir. Sebab, citra desain modern hanyalah desain yang bebas ornamen serta mengekspresikan kepresisian bahasa mesin, serbapolos, bentuknya kotak-kotak, sederhana, dan serius. Semua seolah antikemanusiaan,”tutur Probo
Bagi para pengamat desain,kegagalan yang paling parah pada modernisme adalah ketidakmampuannya mengangkat peran sosial sebuah desain. Desain terlalu seragam, tak komunikatif, tidak memberikan pengalaman estetik bagi pengamat, dan bersifat anonim. Bentukbentuknya terlalu rasional, seolah merupakan pengagungan kehebatan akal manusia dalam menjawab tantangan alam. Terkadang, desain ini kontras dengan karya-karya budaya lokal atau tradisi daerah setempat. Meski begitu,langgam modern bisa saja dikawinkan dengan langgam lain.
Contohnya, mewujudkan hunian berkonsep modern etnik. Gaya etnik itu sendiri sangat beragam. Kita, orang Indonesia, memiliki begitu banyak variasi etnis sehingga jika dipandang dari segi desain, kita akan punya banyak sekali pilihan. ’’Biasanya gaya etnik yang sering dipakai untuk konsep rumah adalah Jawa dan Bali. Kalaupun ada gaya Dayak dan sebagainya, itu jarang sekali,” timpal arsitek dan desainer interior Riantono Hermawan. Ada dua gaya yang populer diadaptasi ke dalam hunian, yaitu Bali dan Jawa. 
Menurut Probo, yang lebih digemari adalah Bali ketimbang Jawa. Analisa itu datang dari citra Bali yang dekat dengan nuansa liburan, sehingga memberikan efek rekreasi pada psikologis penghuninya. ”Kalau Jawa biasanya memang karena penghuninya suka dengan gaya Jawa.Kesan yang timbul juga dekat dengan kemewahan,” imbuh Probo.Kesan mewah itu didapat lantaran beberapa jenis furnitur dengan etnik Jawa dikenal mahal, misalnya bahan kayu jati, ukiran Jepara,dan sebagainya. Mendesain rumah modern-etnik tidaklah sulit. Anda hanya perlu merancang rumah seperti biasanya dan desain denah rumah tetap mengikuti kebutuhan kita sehari- hari. 
”Ruang-ruangnya ditata sedemikian rupa agar fungsional, simpel, dan mengikuti kebutuhan penghuni.Karena saat ini pola pikir manusia selalu ingin yang instan, efisien, serta multifungsi sehingga tecermin dalam desain rumahnya,” ujar Probo. Jika Anda hanya ingin menjadikan etnik sebagai unsur, ada hal yang perlu diperhatikan.Analoginya seperti ini, jika rumah Anda yang bergaya modern ingin ditambahkan unsur etnik,Anda tidak perlu melakukan perombakan atau penataan yang major. 
Cukup dengan memberi hiasan- hiasan, ornamen atau pernak-pernik etnik,mudah bukan? ”Komposisinya bisa 50-50 atau bahkan 75-25, tergantung selera. Hanya saja, sebaiknya komposisi etnik lebih sedikit, karena gaya modern cenderung simpel, sedangkan etnik sangat complicated. Kalau digabung dengan porsi sama, gaya etniknya akan lebih mencolok,” jelas Riantono.
Dengan komposisi etnik lebih sedikit, maka unsur modern lebih kuat, sehingga tepatlah dikatakan sebuah hunian berkonsep modern-etnik. (johana purba) 






________________________________________________
Photos by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tuesday, March 10, 2009

Konsep Front Office (Ruang penerima) untuk sebuah kantor

Genius front officeKonsep ideal untuk front office harus memenuhi beberapa kriteria berkaitan dengan image dari perusahaan yang bersangkutan. Front office adalah tempat bertemunya 'sebuah perusahaan' dengan pengguna jasa atau pembeli produk. Konsep ideal front office tentunya harus mencerminkan suasana yang mendukung image perusahaan di mata konsumen.

Hal pertama yang harus diperhatikan dalam konsep ideal front office adalah kenyamanan pengunjung. Front office sebaiknya dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang nyaman seperti ruang tunggu dengan kursi tunggu yang nyaman, suasana tenang dan pengaturan yang baik pada area meja, penataan barang, serta rencana sirkulasi pengunjung (alur pengunjung dari masuk ke ruangan, mendapatkan nomor antri misalnya, duduk menunggu, atau langsung dilayani oleh petugas).

Rancangan interior yang mendukung kesan sebuah front office bisa diolah dari kesan yang diinginkan. Apakah perusahaan, toko, penyedia layanan, atau usaha kita ingin mendapatkan kesan yang ramah, bersifat melayani sepenuh hati, dan sebagainya. Rancangan interior juga sebaiknya memiliki hubungan dengan brand sebuah produk, jasa atau konsep dari sebuah perusahaan.


Genius front office


Menghubungkan kesan rancangan interior dengan brand produk atau layanan perusahaan bisa dilakukan antara lain dengan:


  • Memampang logo atau nama perusahaan sebagai latar belakang sebuah front office. Hal ini bisa memperkuat brand perusahaan, produk atau layanan kepada pengguna atau konsumen.
  • Menggunakan warna-warna interior yang berkaitan dengan logo atau identitas perusahaan. Misalnya, bila logo memiliki warna orange, bisa digunakan sebagai latar belakang atau warna dinding front office untuk memperkuat brand dimata konsumen.
  • Menggunakan rancangan dan dekorasi yang dapat memperkuat kesan perusahaan dalam konteks tertentu, misalnya perusahaan modern, menggunakan furniture bergaya modern. Perusahaan travel ke hutan dan gunung bisa menggunakan gambar-gambar ilustrasi berkaitan dengan hutan atau gunung.



Di front office, idealnya ada barang-barang apa saja, dan seperti apa penataannya?
Benda apa saja yang ada dalam sebuah front office ditentukan terutama oleh jenis perusahaan dengan produk atau layanan apa yang disediakan. Hal ini berkaitan dengan aktivitas pengunjung, apakah seorang pengunjung datang, mengambil nomor antrian, duduk menunggu, berbicara dengan costumer service, dan sebagainya. Tentunya masing-masing aktivitas membutuhkan perabot atau perlengkapannya sendiri. Misalnya, bila costumer service membutuhkan lemari yang digunakan untuk menyimpan berkas, namun terlihat bagus, maka bisa diselesaikan dengan menggunakan furniture lemari rak.

Front office sebaiknya dilengkapi dengan fasilitas berupa furniture yang nyaman untuk menunggu, pendukung informasi perusahaan seperti layar sentuh berisi informasi tentang produk atau layanan, meja dan kursi untuk costumer service, dan sebagainya.


Seberapa besar meja resepsionis di ruangan front office, dan harus seperti apa warnanya, mengapa?
Tidak ada batasan khusus tentang warna meja maupun besar meja. Hal terutama yang penting adalah meja bisa digunakan dengan nyaman oleh resepsionis maupun pengunjung, memiliki bentuk yang menunjang atau cukup baik dalam mempresentasikan sebuah perusahaan. Warna untuk meja bisa apa saja, terutama warna yang dikaitkan dengan logo atau image perusahaan.

Pada front office kantor-kantor dewasa ini, besar maupun bentuk meja resepsionis ditentukan oleh desain keseluruhan dari ruang atau lobi yang pertama kali dikunjungi oleh pengunjung. Kita tentunya sering melihat meja resepsionis yang unik, sesuai dengan logo perusahaan yang kita datangi.


Berapa luas ideal front office, mengapa?
Luas ideal minimum dalam arsitektur dan interior, adalah batasan dari sebuah ruang yang akan terasa nyaman bila digunakan. Hal ini berkaitan dengan ukuran tubuh manusia dan berapa luas ruang yang nyaman untuknya.

Luas ideal front office ditentukan oleh berapa jumlah pengunjung, letak perabot atau benda-benda dalam interior. Luas idealnya tentunya adalah hasil perhitungan dari banyaknya orang yang bisa ditampung, aktivitas apa saja yang ada didalamnya, berapa luas ruang yang dibutuhkan untuk aktivitas tersebut, dan berbagai faktor lainnya. Luas ideal tentunya dipengaruhi oleh jumlah pengguna ruang front office, aktivitas apa yang dilakukan didalamnya (berdiri, duduk, berbincang, berjalan), dan gabungan berbagai pertimbangan lain.

Apakah ada pertimbangan dalam memilih warna keramik lantai?
Tidak hanya warna keramik, warna ruangan juga berpengaruh pada kesan interior dan persepsi pengunjung. Warna yang digunakan harus disesuaikan dengan tingkat kenyamanan, image, dan hal lainnya. Warna yang sering digunakan untuk front office biasanya adalah warna-warna netral seperti krem, putih, abu-abu, warna kayu, dan sebagainya.

Warna-warna netral, dipadukan dengan pencahayaan yang hangat, bisa memunculkan suasana nyaman dan rileks. Contoh dari suasana nyaman ini, misalnya lobi hotel atau bank dengan warna krem dan cahaya lampu sorot berwarna kuning hangat.


Mengapa perusahaan harus memperindah front office?
Front office adalah tempat dimana pengunjung berinteraksi dengan perusahaan melalui layanan. Kesan yang baik dari front office dapat membantu perusahaan menanamkan kesan baik pula dalam benak pengunjung. 



Pada saat ini, seperti apa tren desain front office di indonesia?
Desain front office pada perusahaan-perusahaan besar saat ini biasanya dihubungkan dengan kesan modern yang didukung oleh tren gaya modern 'minimalis' yang sedang berkembang. Hal ini karena pada dasarnya desain interior sebagai bagian dari arsitektur juga memiliki tren yang sama dan saling mendukung.

Warna-warna netral, pemakaian bahan-bahan berkesan hi-tec seperti kaca, logam, aluminium, cladding, dan bahan material modern sangat mendominiasi tren. Ini bisa dimaklumi sebagai upaya memperlihatkan kemajuan perusahaan dengan menghubungkannya dengan image pembaharuan dan modernitas. 



________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.