Monday, December 13, 2010

Atap anyaman dengan struktur kayu dan bambu


astudioarchitect.com Dewasa ini material bangunan yang langsung didapat dari alam banyak mencerminkan gerakan kembali ke alam. Material bangunan seperti atap ijuk, alang-alang, tebu, dengan konstruksi sederhana seperti kayu, bambu dan papan mulai diminati sebagai alternatif sangat murah membangun bangunan seperti kafe, teras, gazebo, dan sebagainya. Material ini lumayan banyak yang mulai digunakan karena faktor murahnya. Material penutup atap ini dibuat dari daun tebu, merupakan material alternatif untuk penutup atap, dengan konstruksi yang relatif sederhana. Rangka bangunan bisa dibuat dari kayu dengan penutup bambu anyaman (gedhek), bisa juga menggunakan papan tripleks atau multipleks.


Setelah mengobrol dengan pemilik bangunan beratap anyaman daun ini saya mengetahui beberapa hal tentang atap tersebut. Konstruksinya cukup dibuat dari tiang-tiang dan kuda-kuda kayu seperti biasa, bahkan bisa menggunakan kayu sengon atau jati Jawa. Di bagian yang menumpu pada kuda-kuda bisa diberi usuk yang langsung menumpu pada balok atas dinding dan bubungan.

Diatas usuk, terdapat reng yang juga berfungsi sebagai pengikat anyaman daun bambu, dimana rata-rata bambu plus anyamannya seharga Rp2000 - Rp3000,- dengan panjang beberapa meter, disusun dengan jarak kurang lebih 10 cm antar bambu.

Menurut saya kondisi biofisika yang terjadi dalam ruang dibawah atap ini terlampau sejuk, dibandingkan dengan menggunakan atap asbes atau seng (pabrikan). Hal ini karena adanya ruang antara atau pori-pori, namun sama dengan material murah yang lain, perlu diganti setiap 1-1,5 tahun sekali. sehubungan dengan kemungkinan kebocoran.


Pada gambar ini terdapat lubang-lubang pada atap yang bisa ditangani dengan mudah, yaitu mengganti bilah bambu ber-anyaman daun tebu seharga Rp2000,- tentunya sangat murah.

Satu hal paling 'keren' dari struktur sederhana ini adalah kesan 'resort' atau kesan alami yang sangat menenangkan, apalagi ditambahkan dengan unsur bambu bilah sebagai kisi-kisi pengganti dinding, sangat sesuai untuk bangunan non permanen untuk menambahkan ruang rumah tinggal, kafe, dan sebagainya. Misalnya digunakan untuk dapur bersuasana alami, atau tempat duduk-duduk, teras, dan sebagainya.

NOTE: Kasus kebakaran atap rumbia/ alang-alang yang terjadi pada tahun 2009 diberitakan oleh Suara Surabaya pada September 2009. Kasus kebakaran atap rumbia atau alang-alang terjadi dengan pemicu arus pendek listrik, cuaca panas dan kemudahan terbakar. Bila membuka artikel di internet seputar 'atap alang alang terbakar'... sepertinya selalu ada pemicunya... seperti arus pendek, petasan yang dilempar... tapi bukan dari panas langsung membakar materialnya...

Bila material ini disentuh bagian bawahnya, material  memang bawahnya dingin (tidak panas) untuk material daun tebu ini. Sepertinya kita tidak harus berhenti memakai material ini karena takut terbakar... Barangkali terdapat penyelesaian arsitekturalnya... misalnya: tumbuhkan pohon peneduh disekitar atap alang2... he he

________________________________________________

by Probo Hindarto
© Copyright 2010 astudio Indonesia.
All rights reserved.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment